Coretan I
Ku ingin bercengkrama dengan Karang yang cangkangnya terbuka lebar di pinggir pantai. Kulit arimu telah terkelupas dan kau tetap dengan bangga berada di sana. Sepertinya kemaluanmu sudah lenyap dan yang tersisa hanyalah sarang dengan cangkang yang mulai terkoyak. Maukah kau mengumpulkan serpihan-serpihan yang tersisa? Akan kamu apakan cangkang itu? Masih maukah kau mencium bau busuk yang keluar dari mata ekormu yang runcing?.
Bau amis dan sedikit berlendir itu akan membuatmu jijik. Tapi siapa sangka semut sangat menikmati setiap tetesan lendir yang keluar dari bagian tubuhmu. Anehnya lagi, walaupun yang datang itu semut, kau tetap dengan tabah tengkurap diatas pasir dipenuhi segala macam sampah. Bagiku ‘dirimu’ hanyalah seperti Karang berlendir tengkurap di pasir pantai yang jadi tempat pembuangan tinja. Hanya semut yang mau menikmati lendirmu dan kau tetap jadi bagian dari sampah.
Sudahlah Karang. Tidakkah kau bosan menjalani hidupmu sebagai sampah. Tidak maukah kau menikmati hidup yang lebih indah dari itu?. Aku bersedia membawamu dan membuat dirimu lebih berarti. Aku mau mencobanya walaupun sampah-sampah dan pasir di sekelilingmu menertawakanmu. Walaupun rumput - rumput di sekitarmu memberitahuku bahwa kau adalah umat terburuk dan terjijik di dunia. Tapi aku tidak peduli. Aku ingin membawamu dalam hidupku yang lebih terhormat. AKu akan mencoba perlahan- lahan menyulap tubuhmu menjadi indah. Aku akan menjadikanmu pajangan terindah yang selalu menghiasi ruang tengah rumahku. Aku akan memamerkanmu pada semua orang yang berkunjung ke rumahku. Yang pasti, aku akan membuatmu berharga dalam hidupku. Dua minggu yang lalu aku menghampirimu. Aku ingin membuka tanganku dan berharap kau mau menerima tawaranku. Ketika aku melemparkan tawaran itu, kau begitu bahagia. Kau merasa lebih berarti dan sepertinya kau benar-benar akan meninggalkan sampah lain dan kau sungguh tidak menginginkan lendirmu yang amis dan menjijikkan itu. Semua terlihat dari pancaran matamu. Saat itu aku benar-benar merasakan kau sangat berterima kasih padaku. Kau memuja-mujaku. Kau panggil aku sang penyelamat. Manusia bermoral dan bermartabat. Orang kecil dengan kemampuan besar. Dan kau mulai menikmati bercengkrama denganku. Perlahan-lahan kau keluar dari cangkangmu dan berusaha untuk menghilangkan lendirmu yang amis. Sangat jelas kau berusaha sekuat tenaga agar -lendir tubuhmu- yang menjijikkan dan membuat siapapun yang mendekatimu mual bahkan muntah, tak tercium olehku. Dengan sekuat tenaga, kau ingin agar aku melihatmu sebagai Karang terbaik yang pantas berada di tanganku. Kau mulai mengagumiku. Sampai akhirnya kau berterus terang bahwa kau telah jatuh cinta padaku. Aku mulai senang karena aku telah membuatmu terpikat dan aku akan menjadi penyelamatmu. Aku ingin menjadi yang berarti bagi dirimu walaupun makhluk di sekitarmu merasa jijik dengan dirimu. Aku bangga dan aku terus memberimu perhatian. Segala cara kulakukan untuk membuatmu berarti dan memiliki percaya diri. Aku meyakinkanmu bahwa diriku akan membantumu disetiap langkah dan gerakanmu.
Namun, engkau semakin mencintaiku. Kau terlalu posesif. Kau marah saat aku berkenalan dengan Ambai-ambai yang berlarian di pasir itu. Kau cemburu saat aku bercerita dan tertawa bersama ombak yang datang saat itu dan kau juga sangat dendam padaku. Dendammu kau lampiaskan pada semua makhluk. Kau rayu siapa saja yang berada di dekatmu. Kau lihatkan keperkasaanmu dan kau tidak lagi peduli dangan lendir dan amisnya tubuhmu. Kau terus membuka cangkangmu dan menjebak semua makhluk yang datang. Bahkan Semutpun kau kurung dalam cangkangmu. Kau tebarkan rimah dan kau jebak setiap semut yang menghampirimu dan umpanmu cukup berhasil. Sekarang kau telah mengurung ratusan semut dalam cangkangmu dan kau beri makan hingga mereka benar-benar bergantung padamu. Mengenai pertolonganku, Kau tidak lagi memerdulikannya. Kau seperti menjauh dariku dan kau merasa aku bukanlah siapa-siapa yang akan merubahmu menjadi karang yang bermatabat dan tidak berada di tumpukan sampah. Kau seolah-olah bungkam ketika pasir menanyakan keberadaanku. Dan kemarahanmu benar-benar telah memuncak. Aku tau kau cemburu. Mhh... waktu terus berlalu. Aku tidak berhasil menjadikanmu karang yang indah, yang dikagumi oleh semua orang. Aku telah gagal menyulap tetesan lendirmu menjadi pernis indah yang akan memberi kilau indah pada tubuhmu tanpa tercium bau amis. Aku juga tidak mampu merubah pandangan makhluk disekitarmu yang selama ini sangat yakin bahwa kau adalah karang yang tidak bermartabat dan hanyalah karang yang menyiksa orang lain dengan bau busuk dan lendirmu. Aku gagal. Sekarang apa yang harus kulakukan?. Sanggupkah aku menyaksikan ratusan semut terkukung dalam cangkangmu? Sanggupkah aku menyapamu, disaat kuingin bercengkrama denganmu, kau alihkan pandanganmu tuk merayu ratusan semut itu dalam waktu yang bersamaan?. ` Entahlah. Aku tidak akan marah padamu, Karang. Aku tidak akan pernah dendam padamu. Aku masih yakin kau akan mampu mengubah dirimu. Dan aku tetap berdo’a untukmu. Semoga ratusan semut itu tidak mati dengan sia-sia. Semoga ombak membawamu ke samudra dan mendamparkanmu di pulau yang indah dengan pesona alamnya yang bisa membuat hidupmu bermakna. Semoga suasana di pualu itu membawa kedamaian dalam dirimu dan semoga kau memaafkanku. Aku sayang kamu, Karang. Toek: Sebuah karang yang tergeletak dan dikerumuni semut di Pantai Padang. *** Coretan 2
LAILA Laila Gets up in the morning to see the sun rises in the East. She Takes a breath and hopes a suny day. She goes to a traffict lamp. Screeming to God and hoping the new life of her. Coming in every stoped car and hoping a gold falls there. Hopes an angel sends foods into her basket and hopes her dress suddenly changes. The traffict lamp is her future. She hopes the lamp is red so long. She sings the strange and fales song and hopes someone appreciate what she has done. A young man smiles at her. He doesn’t know the meaning of the song but he laughs. He thinks that the song is a new lyrics and he decides to give her much money. He opens his wallet and he takes two peaces of his money and gives her. She gets confuse because she never sees the picture of the money before. She refuses the money and she says ‘Mokasih’ while her right hand fingers drop the money to his hand. A young man is really proud of her. He is sure she doesn’t want to take the money because she realizes that he doesn’t have much money. She just wants to take money from a rich person not from a traveller such him. She is still in his mind. In the right corner of the traffict jam, tthere is a police station. There are at least four policemen stay there everyday. They control the trafic jam and all people who use the streets. They seem to be cold men, so they ignore a girl who always sings a song on the public car. Basically, they never make a conversation with her and let her do what she wants. They don’t have a couriosity to know much about her and her family. *** Laila sits on the chair besides a street vendor. She is busy with her hair. She rolls the hair using one of her fingers. Sometimes, She makes a small hole using her foot finger. That’s why, her fingers are dirty and odour smell. She will leave the chair when a public car stops because of red light of the traffic lamp. She brings a yummy package which is made from plastics. Who wants to continue my story.....???.
Coretan 3:
Jadi Anak Baru Kamis, 14 September Hari pertama kuliah oi.... Mulai hari ini Blog Rimot akan diisi seputar Kampus and Kampus. Maklum semangat anak baru. Bagi yang nggak suka topik ini, dilarang membaca. Ntar boring lagi. Hari ini hari pertama kuliah. Aku agak malas kuliah. Bagiku UNP sangat asing. Aku belum bisa sepenuhnya meyakinkan kalau aku sekarang Mahasiswa UNP. Hati kecilku belum terima. Aku tidak tahu kenapa ini terjadi. Tapi dari analisaku mungkin salah satu alasannya, Aku Baru saja tamat UNAND, Universitas bergengsi di Kota Padang. Aku bangga kuliah di UNAND.Jadi Selama empat tahun ini aku benar-benar merasa bahwa Aku adalah salah satu Mahasiswa di Universitas paling bergengsi di kota Padang. Yah...Image UNAND benar-benar tidak diragukan lagi. Sering kali orang-orang mengucapkan pameo tentang Universitas-Universitas yang ada di kota Padang. Isi pameonya lebih kurang seperti ini:
'Kuliah di ma?' 'di Unand' maka reaksi pendengar adalah 'wah hebat' 'di UNP' maka reaksi pendengar adalah 'dima kampuang?' 'di UNES' maka reaksi pendengar adalah ' bisa tuh' 'di Bung Hatta' maka reaksi pendengar adalah 'ndeh, kayo mah'.
Dari pameo ini, sejak lama sudah tertanam dalam diri sebagian orang, termasuk aku, bahwa aku hebat. Karena aku bisa kuliah di UNAND. Aku melihat bahwa yang kuliah di UNP itu adalah orang kampung atau ibuk-ibuk. Pikiran semacam ini tertanam selama lebih kurang lima tahun. Pikiran semacam ini tidak bisa disalahkan karena masyarakatlah yang menciptakan dan menanamkannya. Ini diterima saja tanpa ada yang pernah komplain. Setelah waktu berlalu, sekarang datanglah saatnya aku menjadi mahasiswa UNP. Tamat S1 jurusan Sastra Inggris, aku ingin melanjutkan Akta 4 untuk memperoleh sertifikat Guru. Setahuku, Sertifikat Guru yang legal hanya di UNP. That’s why I take UNP. Tentang Status????
Statusku sekarang sampai satu tahun mendatang adalah Mahasiswa UNP. Jadi aku harus siap dengan Panggilan “Orang Kampung”. Dengan berat hati aku memasuki gerbang UNP. Aku berharap bisa menuntut ilmu dengan tenang dan hatiku dapat menerima statusku sebagai anak UNP. Ruang kuliah anak akta IV tidak sama dengan Mahasiswa reguler. Kami kuliah di ruangan milik UPT-Pelatihan Bahasa. Menurut jadwal, perkuliahan dimulai pukul 11.00 tapi sudah setengah jam kami berada di ruangan, tak satupun dosen menghampiri kami. Hatiku semakin gundah dan semakin yakin bahwa UNP tidaklah Universitas yang bagus. Dosennya tidak qualified. Ketika Mahasiswanya semangat kuliah di hari pertama, Dosen tidak datang tanpa konfirmasi. Aku sangat...Sangat kecewa.yah...dengan kesal akhirnya aku meninggalkan ruangan itu dan pergi ke tempat kerjaku. Aku pergi ke UNAND dan merasa UNAND is the best for me. Aku kecewa dan aku bercerita pada semua orang. Mereka bertanya kenapa aku cepat pulang padahal aku sudah minta izin untuk kuliah sampai sore. Tapi jam setengah satu aku sudah berada di Limau Manis dan siap dengan pekerjaanku.Mh.... Hari kedua kuliah, aku harus bangun Pagi. Aku tidak terbiasa bangun pagi jadi semua terasa berat. Kuliah akan dimulai pukul tujuh pagi jadi aku harus berangkat dari UNAND ke Air Tawar jam enam pagi. Mulailah perjuanganku untuk bangun pagi dan menyiapkan bekal. Teman-teman kos pada kaget melihat aku berangkat jam enam. Mereka tertawa dan merasa menang karena selama ini akulah yang paling akhir bangun dan paling akhir pergi. Jadi teman-teman yang selama ini iri melihat aku masih tertidur pulas semantara mereka sudah harus pergi ke kampus. Mereka benar-benar bahagia dan seperti mendapat kemenangan melihat aku “harus” bangun pagi. Aku sampai jam 7 pas. Memang soal waktu aku tidak terbiasa ngaret dan aku paling tidak suka dengan seseorang yang datang terlambat tanpa alasan dan konfirmasi. Dosen lagi-lagi terlambat. Jam 7.30 seorang wanita sedikit berumur memasuki ruangan. Sepertinya dialah Dosen pertama yang akan mengajar kami. Aku berdo’a semoga ibuk ini tidak membosankan dan aku bisa banyak beloajar dari dirinya. Sebenanya aku takut juga menilai Seorang Dosen atau guru. Jangan-jangan suatu saat ketika aku jadi guru, murid-muridku memiliki hobby yang sama denganku. Yanitu “Menilai”. Yah...mumpung jadi mahasiswa, tidak apalah. Ntar jadi guru kita bakalan dinilai. Adilkan???? Gaya mengjar ibuk ni pertamanya sangat menarik. Tapi lama kelamaan ceritanya sudah beranjak tentang Experiance. Tapi terlalu panjang. Masak kuliah pertama sudah muji-muji diri and keluarga. Nggak baguskhan?? Boring. Dari dosen ini aku semakin yakin bahwa UNP bukanlah tempat yang nyaman bagiku. UNP sama saja dengan Pameo yang kudapat. Aku mulai malas-malasan. Sepertinya ada sedikit penyesalan. Tapi... aku sudah terlanjur kena rintik hujan jadi harus siap untuk mandi dan disiram air. Jam 1 ada kelas lagi. Aku tidak terlalu semangat dan merasa kuliah di UNP just so so. nOthing special.
|